Tampilkan postingan dengan label PHB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PHB. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2012

“Wujudkan Kerja Layak PRT dan Perlindungan PRT”



Pernyataan Sikap Bersama Peringatan hari pekerja Rumah Tangga (PRT)
Rabu, 15 Februari 2012


      Perbincangan dan pengaturan tentang HAM terus digulirkan dalam upaya perubahan sosial dan pembangunan di dunia. Namun realitas menunjukkan pelanggaran HAM kerap terjadi pada kawan-kawan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) disebabkan struktur kultur yang patriarkhis, status sosial ekonomi, dikotomi wilayah, jenis kerjanya di sektor domestik, informal, dan karena mayoritas perempuan.
PRT merupakan salah satu sektor pekerjaan informal yang tidak terorganisir dengan baik sehingga mengakibatkan pendataan serta monitoring dalam pengawasan sulit dilakukan. Kondisi ini semakin memberikan ruang sistematis bagi pelaku pelanggaran HAM untuk melakukan tindak kriminal yang bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari fisik, psikis, ekonomi, dan sosial. Keadaan seperti ini berkebalikan dengan prinsip-prinsip universal penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perlindungan akan hak-hak sosial ekonomi, hak-hak dalam bekerja, serta hak-hak perempuan.


Kemudian, apa makna hari pekerja rumah tangga (PRT) yang jatuh setiap tanggal 15 Februari ??


Tentu akan ada banyak pertemuan, aksi unjuk rasa, dan berbagai acara, tetapi kebanyakan PRT di seluruh Indonesia akan menghabiskan hari bersejarah ini dengan melakukan apa yang biasa mereka lakukan pada hari-hari lain; bekerja.
Apabila kita melihat peran kerja, keberadaan, jumlah dan para PRT yang mayoritas perempuan dan anak ini, akan terlihat hal yang substansial yang perlu untuk diangkat dan dikemukakan sebagai isu bersama untuk merubah sikap dan persepsi dikalangan masyarakat dan Negara.


           Konvensi Kerja Layak PRT (KILO No. 189 KERJA LAYAK PRT) diharapkan mampu menjadi angin segar untuk penghormatan dan penegakan keadilan, bagi semua umat, bagi 100 juta PRT di dunia yang mayoritas adalah perempuan dan anak, termasuk lebih dari 10 juta PRT yang bekerja di Indonesia dan lebih dari 6 juta PRT migran Indonesia.  Namun, konvensi ini hanyalah sebagai pintu baru ke perjuangan selanjutnya, bagaimana agar negara-negara meratifikasinya dan mengimplementasikan sesuai dengan  standar setting di dalamnya. Dan menjadi suatu keniscayaan bagi setiap negara yang menjunjung prinsip-prinsip HAM dan keadilan sosial untuk segera meratifikasi dan mengintegrasikannya dalam kebijakan nasional.




 Rabu 15 Februari 2012, JALA PRT  yang merupakan  jaringan nasional untuk Advokasi PRT dan KOALISI 15.02 yang merupakan jaringan lokal yang bergerak dalam advokasi PRT menyelenggarakan kegiatan peringatan hari PRT untuk mengajukan tuntutan umum dan berkelanjutan, yakni Pengakuan dan menjadikan 15 Februari sebagai HARI PRT dan juga HARI LIBUR NASIONAL PRT, mewujudkan 1 hari Libur Mingguan bagi PRT, mewujudkan Undang-Undang Perlindungan PRT dan Peraturan Daerah Perlindungan PRT.  


Aksi unjuk rasa dimulai pukul 09.30 WIB di depan gedung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dimulai dengan jalan kaki dan orasi di sekitar simpang lima Semarang. Satu persatu lembaga-lembaga yang tergabung dalam KOALISI 15.02 menyampaikan gagasannya dan menuntut untuk diperkenankan memasuki gedung Pemerintahan Provinsi Jateng tersebut guna melakukan audiensi dan penyampaian rekomendasi kepada pihak terkait. 




Pandangan / rekomendasinya antara lain :
1. Pemerintah Provinsi jateng segera mengirim surat dukungan ke DPR RI sebagai bentuk kepeduliannya untuk melindungi PRT yang mayoritas adalah perempuan dan anak. Selama ini bekerja tidak ada perlindungan dan pengawasan.
2. Adanya Perda atau bentuk perlindungan tingkat daerah bagi pekerja rumah tangga.
3. Ada perlindungan sehingga dapat mengatur jam kerja, jam istirahat, kontrak kerja dan jenis pekerjaan, kecelakaan kerja/ perlu jaminan sosial, kontrak kerja yang jelas, pengawasan, Asuransi karena selama ini tidak ada batasan dan aturan tentang hal te
rsebut.
4. Gaji minimal UMK dan libur mingguan karena selama ini PRT bekerja selama hampir 24 jam  serta tidak ada libur sehari dalam satu minggu
5. UUP KDRT tidak  bisa melindungi keberlanjutan PRT yang tinggal di rumah majikan
6. Pengakuan hak sama seperti pekerja yang lain
7.  Perlu ada perlindungan yang konkrit bagi pekerja rumah tangga di tinggat provinsi jawa tengah
8.  Diharapkan isu PRT bisa di share kan/ diteruskan ditingkat rapat murenbangda tingkat provinsi.



(harap perhatikan poster yang dibawa saja... jangan diindahkan aksi narsies yang membawa..^^)




Setelah berorasi cukup lama, akhirnya sepuluh orang diperkenankan memasuki gedung megah tersebut untuk melakukan audiensi tertutup. 


Hasil audisensi dengan Disnaker Jateng dan Setda adalah sebagai berikut :
-          Pihak disnaker sedang melakukan proses pembuatan peraturan tentang jaminan untuk pekerja,yang mana PRT juga include didalamnya.  Akan tetapi peraturan jaminan sosial tidak bisa mencakup perlindungan, maka butuh perlindungan yang konkrit.
-           Pihak Disnaker siap   untuk merumuskan serta bekerja sama dengan JALA PRT untuk sharing, menyusun draft materinya/ materi usulan mengenai perlindungan PRT secara konkrit.
-         Pihak Setda  segera mengirim surat dukungan untuk proses pembahasan RUU PPRT  - menjadi UU PPRT
-         Pihak Setda memaparkan bahwa untuk saat ini belum dapat menerbitkan perda akan tetapi dapat diterbitkan semacam PERGUB.


 Usaha untuk mencapai apa yang menjadi tujuan dlakukannya aksi tentu tidak berhenti sampai disini. karena perlu dilakukan pengawalan secara intensif oleh semua pihak dari apa yang telah disampaikan pihak pemerintah agar benar-benar dapat diimplementasikan dalam praktek kehidupan para PRT.




           

                                 Anggota Koalisi15.02: OPERATA Merdeka, PERISAI, SETARA, LBH semarang, LRC- KJHAM, PERDIKAN, PBHI Jawa Tengah, Serikat Buruh, KPI Jawa Tengah, KPI semarang, LBH Apik Semarang, LPSAP PMII Tarbiyah, PMII Ushuluddin, AkRAB, Fatayat wilayah Jawa Tengah, LKP3A Fatayat Wilayah Jawa Tengah,  Serabi, perseorangan.

           


Rabu, 21 Maret 2012

DISKUSI LESEHAN DAN PERSEMBAHAN ‘DARI BETA UNTUK KASIH BUNDA SEPANJANG MASA’

            Tanggal 22 desember selalu diperingati tiap tahunnya di Indonesia sebagai hari ibu. Ditetapkannya tanggal tersebut sebagai hari perayaan nasional sangat sarat dengan sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia.  Perjuangan perempuan Indonesia sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan dan masih banyak lagi.
           Pada tahun 1928 muncul keinginan dari pemimpin perkumpulan para perempuan untuk membuat sebuah wadah mandiri. Tepat pada tanggal 22-25 desember 1928 diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia pertama di gedung dalem Jayadipuranyang Yogyakarta. Dari Kongres tersebut dihasilkan satu keputusan yakni dibentuknya suatu organisasi bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoen Indonesia (PPPI) yang berfungsi menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.  
           Hari itu kemudian ditetapkan oleh Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 sebagai perayaan hari nasional yakni hari ibu.

            Tanggal 22 desember 2011, LPSAP mengadakan sebuah kegiatan dalam rangka memperingati hari ibu dengan menyelenggarakan diskusi lesehan bertema “Kiprah Gemilang Gagasan Perempuan Indonesia” beserta persembahan “Dari Beta (Aku) untuk kasih Bunda sepanjang Masa”.

                                         (sahabat peserta diskusi)

                                         (sahabati peserta diskusi)

Acara ini dimulai sejak pagi pukul 09.30 di taman Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo yang dibuka dengan diskusi lesehan dengan mendatangkan pembicara sahabati Siti Maemunah dari Fatayat Jawa Tengah dan sahabat Khafidh Afrizal S. Pd.

(sang pembicara .. ^^)

             Pemilihan tema yang berjuluk jejak gemilang gerakan dan gagasan perempuan Indonesia bertujuan untuk memberikan motivasi dan semangat tersendiri bagi sahabat-sahabati kader PMII khususnya dan mahasiswa-mahasiswi IAIN pada umumnya dalam menghadapi serangan isu tentang diskriminasi dan kriminalisasi yang terjadi pada perempuan selama ini.
            Banyaknya ulasan tentang penindasan perempuan yang tidak diimbangi dengan pemaparan tentang perkembangan intelektualitas dan gerakan yang telah dilakukan oleh perempuan juga dikhawatirkan dapat memberi stereotipe serta mainset negative bagi perempuan itu sendiri.   Padahal banyak diketahui bahwa perkembangan pemikiran dan kondisi kaum perempuan dalam masyarakat telah mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun-tahun terdahulu.

           Acara peringatan hari ibu yang dilakukan oleh LPSAP kemudian berlanjut pada malam harinya dengan diramaikan oleh penampilan dari masing-masing al mapaba angkatan 2004 sampai al mapaba angkatan 2011. Penampilan tersebut antara lain pembacaan puisi, persembahan lagu-lagu bertajuk ibu dll. 
           Acara persembahan tersebut berlangsung di pelataran depan gedung PKM Kampus II IAIN Walisongo yang dibuka dengan pembacaan Syi’ir Tanpo Waton KH Abdurrahman Wahid.

(maz kencling saat membuka acara persembahan...)


Satu persatu al-mapaba dan rayon-rayon komisariat walisongo menampilkan persembahannya meski tidak sedikit yang melakukannya tanpa latihan (on the spot) ^^. 

(penampilan dari komunitas seni cagak laras)


     




(penampilan al mapaba 2009)
                                                             
                                       




    (penampilan al mapaba 2011)












(penampilan almapaba 2008)














 (penampilan almapaba 2010)













(penampilan rayon Syari'ah)








(penampilan al mapaba 2004)


Acara ini berlangsung hingga pukul 23.00 WIB dan ditutup dengan monolog dari sahabat ambon.



               Demikianlah, meski banyak sudah jejak kesuksesan para perempuan yang telah direkam oleh sejarah, namun perjuangannya dalam mengkritisi dan menyikapi problem-problem kontekstual belum lah selesai. Karena konteks akan terus berubah dan dinamis, sedangkan sejarah hanya akan berhenti dalam literatur atau teks yang sifatnya statis.

salam pergerakan .. !!




Selasa, 20 Maret 2012

Gelar Kesenian Peringatan Hari HAM 2011



     Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap individu sejak ia dilahirkan didunia. Hak asasi manusia bersifat universal yang artinya berlaku dimanapun, bagi siapapun dan tidak dibenarkan melakukan pemangkasan atau pengambilan hak asasi tersebut dari orang lain. Namun perlu ditekankan pula bahwa penegakan hak juga harus dibarengi dengan pemenuhan kewajiban bagi tiap-tiap individu.

Pada hari jumat (10/12/2011), LPSAP bersama lembaga-lembaga sekitar semarang yang peduli terhadap perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM) menggelar pentas budaya di bundaran videotron jalan Pahlawan dalam rangka memperingati hari HAM yang jatuh setiap tanggal 10 Desember. Beberapa Lembaga tersebut antara lain LBH Semarang, SETARA, PERMAHI, KP2KKN, LRC KJHAM, PATTIRO, LBH APIK, PBHI Jateng, YAWAS, PERISAI, SRMI, PMII, HMI dan KAMMI.
 Kegiatan ini sudah dimulai sejak sore hari dimana diisi dengan kampanye tentang HAM dan dilanjutkan pada malam harinya dengan gelar kesenian. Gelar kesenian diramaikan oleh masing-masing lembaga yang mempertontonkan karya seni mereka antara lain tari daerah, theatrical, pembacaan puisi, monolog, atraksi kuda lumping, perkusi dan masih banyak lagi.


            LPSAP bersama anak-anak resosialisasi sunan kuningpun ikut meramaikan gelar kesenian tersebut dengan menampilkan modern dancer oleh empat anak resos SK argorejo dan theatrical oleh sahabat-sahabati LPSAP yang bertajuk ketimpangan sosial berkaitan dengan pelanggaran HAM oleh penguasa di Indonesia.

                    (aksi modern dance adek-adek SK)

      Kegiatan yang mengusung grant tema “HUMAN RIGHT FOR ALL” ini bertujuan untuk mensosialisasikan kembali akan pentingnya pemahaman dan penegakan HAM di Indonesia. 
      Hak asasi manusia diIndonesia yang bersumber dari falsafah bangsa yakni pancasila sejauh ini hanya dipahami secara harfiah dengan mengesampingkan nilai-nilai esensial yang dikandungnya. Pemenuhan Hak sasi manusia bukanlah dengan melakukan hal apa saja dengan sebebas-bebasnya, melainkan harus memperhatikan peraturan, ketentuan yang berlaku dan hak yang dimiliki orang lain.
Minimnya pemahaman tentang fungsi, peran dan kedudukan hak asasi yang dimiliki oleh masing-masing individu mengakibatkan masih banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM seperti penindasan, pembatasan atas hak rakyat dan oposisi dengan sewenang-wenang, pemberlakuan hukum yang tidak adil dan manusiawi, manipulatif  aturan pemilu sesuai dengan penguasa dan partai tiran/otoriter.
      Oleh karena itu, pengadaan kegiatan diatas mengharapkan adanya reinterpretasi, pemahaman serta kesadaran hak asasi yang ada pada masyarakat. Dengan berusaha bersama-sama memerangi tindakan-tindakan yang melanggar kepemilikan hak asasi atas orang lain ..





Minggu, 18 Maret 2012

Peringatan hari AIDS 1 Desember 2011

Kamis, 1 Desember 2011 LPSAP bersama komunitas sunan kuning dari resosialisasi argorejo, komunitas rowosari, mahasiswa UNDIP dan UDINUS mengadakan aksi menyebarkan seribu bunga mawar kepada pengguna jalan di bundaran kalibanteng semarang dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 desember.

(Sahabat-sahabati dari LPSAP PMII)

(sahabat-sahabati dari Stop HIVA Undip)

Aksi dimulai pukul 08.30 yang dimulai dengan berjalan dari resosialisasi sunan kuning sampai ke bundaran kalibanteng dengan membawa berbagai macam spanduk dan yel-yel yang kami nyanyikan sepanjang perjalanan. 


Sesampainya di bundaran kalibanteng, masing-masing perwakilan lembaga menyampaikan orasinya tentang bahaya AIDS dll. 


Di sela-sela orasi juga ditampilkan teatrical tentang bahaya seks bebas yang dilakonkan oleh sahabat ambon dan edi sembiring bersama dua aktivis waria. 


Selanjutnya massa aksi dipecah menjadi lima kelompok yang masing-masing membagikan bunga di kelima traffic light di sekitar bundaran kalibanteng. Penggunaan simbol bunga dimaksudkan sebagai lambang kasih sayang dan sikap kepedulian sesama manusia. Selain bunga mawar merah, kami juga menyebarkan poster-poster bertemakan AIDS.



Jumlah Orang dengan AIDS (ODHA) saat ini mengalami kenaikan yang signifikan. Adanya peningkatan Odha dari tahun sebelumnya dari 348 ke 458 di kota semarang menunjukkan semakin maraknya praktik seks bebas tanpa ada kontrol yang jelas dari pemerintah. 
Diadakannya kegiatan aksi dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan menggulirkan wacana-wacana tentang AIDS diharapkan mampu mengingatkan kembali bagi kaum muda Indonesia pada pentingnya menjaga diri dilingkungan metropolitan dan padat penduduk seperti Semarang ini.  Selain itu, hal ini juga perlu sebagai pengingat kembali bagi para orang tua seorang anak yang berada jauh dari rumah dan jangkauan orang tua karena menuntut ilmu ataupun bekerja.
Semakin berkembangnya ilmu teknologi dan arus globalisasi yang terjadi menyebabkan kejahatan dalam berbagai bentuk bisa terjadi dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun. Lebih daripada itu, kaum muda adalah garda depan penerus bangsa yang akan membawa tongkat estafet perjuangan kaum pendahulunya. Kita tidak dapat mempertaruhkan kemerdekaan dan kelangsungan bangsa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kepada pemuda pemudi Indonesia yang merusak dan dirusak akan moral dan nalarnya.
  

salam advokasi ...!!
salam pergerakan ..!!!