Sabtu, 24 Maret 2012

LPSAP Fasilitator Camp

            Lebih dari 6 bulan para pengurus bergumul dalam kegiatan-kegiatan yang diagendakan oleh LPSAP. Tenaga, fikiran dan waktu mereka luangkan demi kelancaran acara yang telah diagendakan. Selama kurun waktu itu pula pengurus LPSAP periode 2011/2012 mengalami banyak romantisme dalam perjalanannya menjalankan amanat kepengurusan mulai dari keceriaan, saling tengkar yang membawa pada pendewasaan,  pasang surut semangat, candaan yang tak ayal memantik emosi ^^ dan masih banyak lagi.

            Maka pada hari sabtu (18/02/2012) hingga hari senin (20/02/2012) para pengurus LPSAP mengadakan agenda ‘LPSAP Fasilitator Camp’yang berlokasi dipantai ngebum Kaliwungu Kendal dengan jumlah peserta sekitar 30 pengurus. Acara yang belum pernah teradakan dan bisa dibilang perdana di lembaga ini. Acara yang mengusung tema ‘bermain sambil belajar’ ini dimaksudkan untuk merekatkan kembali simpul-simpul perkawanan antar pengurus yang telah terjalin lama serta untuk menggugah kembali semangat para pengurus untuk menjalankan amanat yang  telah diberikan kepada mereka. kegiatan semacam ini lebih akrab dikenal dengan nama TA (tadabur Alam), namun penekanan pada sisi pengasahan intelektual dan diskusi pengurus disamping refresing-lah yang menjadikan acara ini sedikit lebih berbeda.



(suasana pemberangkatan ke tempat kejadian perkara)










Lebih daripada itu, kader-kader LPSAP PMII dirasa perlu untuk memiliki wacana-wacana advokasi dan gerakan sosial kontemporer yang dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan. Inilah yang kemudian menjadi tujuan dan target LPSAP untuk melaksanakan kegiatan dan memberikan kurikulum dalam rangka penataan sumber daya kader LPSAP PMII di masa depan.

(kediaman tempat acara LPSAP berlangsung)

(Bunda, sang pemilik rumah yang baiiiiik hatinya nan ramah.. ^^)

            Kepekaan akan adanya masalah-masalah sosial biasanya dimulai oleh para ahli, para cendekiawan, tokoh masyarakat dan oleh masyarakat yang merasakan secara langsung akibat merugikan yang ada tersebut. Saratnya peranan mahasiswa sebagai kaum intelektual muda ditengah-tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan solusi dan wawasan kehidupan dengan berbekal pengetahuan tentang gejala-gejala yang timbul dimasyarakat berkenaan dengan situasi geografis, ekonomis dan politis.


                        Beberapa materi yang disuguhkan dalam kegiatan ini antara lain :
1.  Analisis Sosial ; Membedah Medan Advokasi PMII oleh sahabat Khafidh Afriyal S. Pd




2.      Peta Gerakan Advokasi dan Nilai Strategisnya oleh sahabati Yaya dari LRC-KJHAM


3.      LPSAP dan Gerakan Sosial PMII oleh sahabati Evi Nurmilasari dari Fatayat Jateng



4.      Remastering Plan: Membangun Advokasi Resources sahabati Nur Lailatuttaqwa dari LSM Yakita




(sahabat yasin saat review materi)




Dari beberapa diskusi yang difasilitatori secara tetap oleh sahabat Kusiyana (Tesa Pemrov Jateng), diadakan pula acara bedah film. Film yang dijadikan bahan analisis tentang sosio-kultur serta nilai-nilai perjuangannya adalah “The Last Samurai” dengan didampingi oleh fasilitator sahabat Khafidh Afrizal S. Pd.
           
(aksi sahabat ian saat menjadi fasilitator tetap .. )



           Banyaknya waktu yang terluangkan karna faktor kesengajaan dipergunakan oleh sahabat-sahabati pengurus untuk berbincang ringan mengenai agenda-agenda LPSAP kedepan. 




(sahabat-sahabati saat ngobral ngobrol)











(acara bakar-bakar ketela pohon tepat dipinggir pantai setelah bedah filem pada pukul 00.30WIB)





(isuk-isuk paling enak gitaran dipantai....)








           


          dari kegiatan yang telah dilaksanakan, muncul beberapa gagasan baru yang ingin direalisasikan. semoga dapat terlaksana dan semoga acara ini bermanfaat. salam sejahtera untuk kita semua ...


Kamis, 22 Maret 2012

“Wujudkan Kerja Layak PRT dan Perlindungan PRT”



Pernyataan Sikap Bersama Peringatan hari pekerja Rumah Tangga (PRT)
Rabu, 15 Februari 2012


      Perbincangan dan pengaturan tentang HAM terus digulirkan dalam upaya perubahan sosial dan pembangunan di dunia. Namun realitas menunjukkan pelanggaran HAM kerap terjadi pada kawan-kawan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) disebabkan struktur kultur yang patriarkhis, status sosial ekonomi, dikotomi wilayah, jenis kerjanya di sektor domestik, informal, dan karena mayoritas perempuan.
PRT merupakan salah satu sektor pekerjaan informal yang tidak terorganisir dengan baik sehingga mengakibatkan pendataan serta monitoring dalam pengawasan sulit dilakukan. Kondisi ini semakin memberikan ruang sistematis bagi pelaku pelanggaran HAM untuk melakukan tindak kriminal yang bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari fisik, psikis, ekonomi, dan sosial. Keadaan seperti ini berkebalikan dengan prinsip-prinsip universal penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perlindungan akan hak-hak sosial ekonomi, hak-hak dalam bekerja, serta hak-hak perempuan.


Kemudian, apa makna hari pekerja rumah tangga (PRT) yang jatuh setiap tanggal 15 Februari ??


Tentu akan ada banyak pertemuan, aksi unjuk rasa, dan berbagai acara, tetapi kebanyakan PRT di seluruh Indonesia akan menghabiskan hari bersejarah ini dengan melakukan apa yang biasa mereka lakukan pada hari-hari lain; bekerja.
Apabila kita melihat peran kerja, keberadaan, jumlah dan para PRT yang mayoritas perempuan dan anak ini, akan terlihat hal yang substansial yang perlu untuk diangkat dan dikemukakan sebagai isu bersama untuk merubah sikap dan persepsi dikalangan masyarakat dan Negara.


           Konvensi Kerja Layak PRT (KILO No. 189 KERJA LAYAK PRT) diharapkan mampu menjadi angin segar untuk penghormatan dan penegakan keadilan, bagi semua umat, bagi 100 juta PRT di dunia yang mayoritas adalah perempuan dan anak, termasuk lebih dari 10 juta PRT yang bekerja di Indonesia dan lebih dari 6 juta PRT migran Indonesia.  Namun, konvensi ini hanyalah sebagai pintu baru ke perjuangan selanjutnya, bagaimana agar negara-negara meratifikasinya dan mengimplementasikan sesuai dengan  standar setting di dalamnya. Dan menjadi suatu keniscayaan bagi setiap negara yang menjunjung prinsip-prinsip HAM dan keadilan sosial untuk segera meratifikasi dan mengintegrasikannya dalam kebijakan nasional.




 Rabu 15 Februari 2012, JALA PRT  yang merupakan  jaringan nasional untuk Advokasi PRT dan KOALISI 15.02 yang merupakan jaringan lokal yang bergerak dalam advokasi PRT menyelenggarakan kegiatan peringatan hari PRT untuk mengajukan tuntutan umum dan berkelanjutan, yakni Pengakuan dan menjadikan 15 Februari sebagai HARI PRT dan juga HARI LIBUR NASIONAL PRT, mewujudkan 1 hari Libur Mingguan bagi PRT, mewujudkan Undang-Undang Perlindungan PRT dan Peraturan Daerah Perlindungan PRT.  


Aksi unjuk rasa dimulai pukul 09.30 WIB di depan gedung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dimulai dengan jalan kaki dan orasi di sekitar simpang lima Semarang. Satu persatu lembaga-lembaga yang tergabung dalam KOALISI 15.02 menyampaikan gagasannya dan menuntut untuk diperkenankan memasuki gedung Pemerintahan Provinsi Jateng tersebut guna melakukan audiensi dan penyampaian rekomendasi kepada pihak terkait. 




Pandangan / rekomendasinya antara lain :
1. Pemerintah Provinsi jateng segera mengirim surat dukungan ke DPR RI sebagai bentuk kepeduliannya untuk melindungi PRT yang mayoritas adalah perempuan dan anak. Selama ini bekerja tidak ada perlindungan dan pengawasan.
2. Adanya Perda atau bentuk perlindungan tingkat daerah bagi pekerja rumah tangga.
3. Ada perlindungan sehingga dapat mengatur jam kerja, jam istirahat, kontrak kerja dan jenis pekerjaan, kecelakaan kerja/ perlu jaminan sosial, kontrak kerja yang jelas, pengawasan, Asuransi karena selama ini tidak ada batasan dan aturan tentang hal te
rsebut.
4. Gaji minimal UMK dan libur mingguan karena selama ini PRT bekerja selama hampir 24 jam  serta tidak ada libur sehari dalam satu minggu
5. UUP KDRT tidak  bisa melindungi keberlanjutan PRT yang tinggal di rumah majikan
6. Pengakuan hak sama seperti pekerja yang lain
7.  Perlu ada perlindungan yang konkrit bagi pekerja rumah tangga di tinggat provinsi jawa tengah
8.  Diharapkan isu PRT bisa di share kan/ diteruskan ditingkat rapat murenbangda tingkat provinsi.



(harap perhatikan poster yang dibawa saja... jangan diindahkan aksi narsies yang membawa..^^)




Setelah berorasi cukup lama, akhirnya sepuluh orang diperkenankan memasuki gedung megah tersebut untuk melakukan audiensi tertutup. 


Hasil audisensi dengan Disnaker Jateng dan Setda adalah sebagai berikut :
-          Pihak disnaker sedang melakukan proses pembuatan peraturan tentang jaminan untuk pekerja,yang mana PRT juga include didalamnya.  Akan tetapi peraturan jaminan sosial tidak bisa mencakup perlindungan, maka butuh perlindungan yang konkrit.
-           Pihak Disnaker siap   untuk merumuskan serta bekerja sama dengan JALA PRT untuk sharing, menyusun draft materinya/ materi usulan mengenai perlindungan PRT secara konkrit.
-         Pihak Setda  segera mengirim surat dukungan untuk proses pembahasan RUU PPRT  - menjadi UU PPRT
-         Pihak Setda memaparkan bahwa untuk saat ini belum dapat menerbitkan perda akan tetapi dapat diterbitkan semacam PERGUB.


 Usaha untuk mencapai apa yang menjadi tujuan dlakukannya aksi tentu tidak berhenti sampai disini. karena perlu dilakukan pengawalan secara intensif oleh semua pihak dari apa yang telah disampaikan pihak pemerintah agar benar-benar dapat diimplementasikan dalam praktek kehidupan para PRT.




           

                                 Anggota Koalisi15.02: OPERATA Merdeka, PERISAI, SETARA, LBH semarang, LRC- KJHAM, PERDIKAN, PBHI Jawa Tengah, Serikat Buruh, KPI Jawa Tengah, KPI semarang, LBH Apik Semarang, LPSAP PMII Tarbiyah, PMII Ushuluddin, AkRAB, Fatayat wilayah Jawa Tengah, LKP3A Fatayat Wilayah Jawa Tengah,  Serabi, perseorangan.

           


Rabu, 21 Maret 2012

DISKUSI LESEHAN DAN PERSEMBAHAN ‘DARI BETA UNTUK KASIH BUNDA SEPANJANG MASA’

            Tanggal 22 desember selalu diperingati tiap tahunnya di Indonesia sebagai hari ibu. Ditetapkannya tanggal tersebut sebagai hari perayaan nasional sangat sarat dengan sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia.  Perjuangan perempuan Indonesia sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan dan masih banyak lagi.
           Pada tahun 1928 muncul keinginan dari pemimpin perkumpulan para perempuan untuk membuat sebuah wadah mandiri. Tepat pada tanggal 22-25 desember 1928 diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia pertama di gedung dalem Jayadipuranyang Yogyakarta. Dari Kongres tersebut dihasilkan satu keputusan yakni dibentuknya suatu organisasi bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoen Indonesia (PPPI) yang berfungsi menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.  
           Hari itu kemudian ditetapkan oleh Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 sebagai perayaan hari nasional yakni hari ibu.

            Tanggal 22 desember 2011, LPSAP mengadakan sebuah kegiatan dalam rangka memperingati hari ibu dengan menyelenggarakan diskusi lesehan bertema “Kiprah Gemilang Gagasan Perempuan Indonesia” beserta persembahan “Dari Beta (Aku) untuk kasih Bunda sepanjang Masa”.

                                         (sahabat peserta diskusi)

                                         (sahabati peserta diskusi)

Acara ini dimulai sejak pagi pukul 09.30 di taman Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo yang dibuka dengan diskusi lesehan dengan mendatangkan pembicara sahabati Siti Maemunah dari Fatayat Jawa Tengah dan sahabat Khafidh Afrizal S. Pd.

(sang pembicara .. ^^)

             Pemilihan tema yang berjuluk jejak gemilang gerakan dan gagasan perempuan Indonesia bertujuan untuk memberikan motivasi dan semangat tersendiri bagi sahabat-sahabati kader PMII khususnya dan mahasiswa-mahasiswi IAIN pada umumnya dalam menghadapi serangan isu tentang diskriminasi dan kriminalisasi yang terjadi pada perempuan selama ini.
            Banyaknya ulasan tentang penindasan perempuan yang tidak diimbangi dengan pemaparan tentang perkembangan intelektualitas dan gerakan yang telah dilakukan oleh perempuan juga dikhawatirkan dapat memberi stereotipe serta mainset negative bagi perempuan itu sendiri.   Padahal banyak diketahui bahwa perkembangan pemikiran dan kondisi kaum perempuan dalam masyarakat telah mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun-tahun terdahulu.

           Acara peringatan hari ibu yang dilakukan oleh LPSAP kemudian berlanjut pada malam harinya dengan diramaikan oleh penampilan dari masing-masing al mapaba angkatan 2004 sampai al mapaba angkatan 2011. Penampilan tersebut antara lain pembacaan puisi, persembahan lagu-lagu bertajuk ibu dll. 
           Acara persembahan tersebut berlangsung di pelataran depan gedung PKM Kampus II IAIN Walisongo yang dibuka dengan pembacaan Syi’ir Tanpo Waton KH Abdurrahman Wahid.

(maz kencling saat membuka acara persembahan...)


Satu persatu al-mapaba dan rayon-rayon komisariat walisongo menampilkan persembahannya meski tidak sedikit yang melakukannya tanpa latihan (on the spot) ^^. 

(penampilan dari komunitas seni cagak laras)


     




(penampilan al mapaba 2009)
                                                             
                                       




    (penampilan al mapaba 2011)












(penampilan almapaba 2008)














 (penampilan almapaba 2010)













(penampilan rayon Syari'ah)








(penampilan al mapaba 2004)


Acara ini berlangsung hingga pukul 23.00 WIB dan ditutup dengan monolog dari sahabat ambon.



               Demikianlah, meski banyak sudah jejak kesuksesan para perempuan yang telah direkam oleh sejarah, namun perjuangannya dalam mengkritisi dan menyikapi problem-problem kontekstual belum lah selesai. Karena konteks akan terus berubah dan dinamis, sedangkan sejarah hanya akan berhenti dalam literatur atau teks yang sifatnya statis.

salam pergerakan .. !!